DZIKIR ITU BELUM SADAR KEPADA ALLOH
MEMBONGKAR HIJAB ( PENGHALANG ) KEPADA ALLOH, PARA ULAMA MENGGUNAKAN DZIKRULLOH
ALAT DZIKIR PALING KILAT ADALAH SHOLAWAT.
Bismillahir rohmaanirrohiim.
Assalamu`alaikum wr wb.
Dzikir secara umum diartikan ingat kepada Allah.
Dalam tataran iman kepada Alloh kita diberi tahu tentang berbagai macam keadaan iman.
Ada keadaan iman yang berasal dari hasil berfikir. Ini adalah iman bit tafakkur atau iman bil aqli.
Ada iman yang berasal dari hasil membaca kitab tentang Alloh. Iman sebab ilmu ( pengetahuan )yang dipelajari kemudian mendapat ilmu. Ini adalah iman bil ilmi.
Ada iman sebab medapat penjelasan dari ulama. Dari guru yang mengajari. Iman sebab cerita. Ini adalah iman bil khabar.
Dari ketiga tataran iman tersebut masih tergolong rendah. Walaupun ilmunya segunung. Kitab yang dibacanya segudang. Iman seperti ini tetap sangat lemah dan mudah terombang ambing sebab dasar keimanannya ditopang oleh akalnya yang dipaksa untuk mempercayai dan tidak mampu menolak. Namun ketika seseorang menghadapi kenyataan hidup, keimananya diuji. Jika tidak sesuai dengan akalnya atau ilmunya, maka dia akan mengalami kebimbangan sebab dia melihat kekuasaan dan perbuatan allah berdasarkan akalnya, berdasarkan kabar dalam kitab atau cerita ulama dan lain sebagainya. Nyatanya tidak melihat langsung bagaimana Allah menghidupkan dan menggerakkan dirinya. Dia belum melihat bagaimana Allah merawat alam sekitarnya. Dia yakin akan kekuasaan Alloh akan tetapi tidak melihat bagaimana Allah menguasai alam semesta termasuk dirinya. Sehingga ada barbagai macam pemahaman yang secara umum kita kenal pemahaman bahwa manusia itu seperti wayang atau boneka mati yang tidak bisa bergerak kecuali digerakkan oleh penciptanya yang dikenal sebagai pemahamn JABBARIYAH. Ada juga kebanyakan manusia memiliki pemaham bahwa manusia itu diciptakan oleh Alloh kemudian dihidupkan dan bisa bergerak dengan dirinya sendiri yang dikenal sebagai pemahaman QOHHARIYAH
Ketika dia berfikir, dia melihat dirinya sendiri yang sedang berfikir.
Ketika dia sedang belajar atau mempelajari kitab dia melihat dirinya sendiri sedang mencari ilmu dan dirinya mendapat ilmu dari kitab yang dipelajarinya.
Ketika dia sedang mendengarkan ulama menyampaikan da`wahnya dia melihat dirinya sedang mendapatkan kabar dari ulama bahwa alloh itu maha kuasa. Maha dan maha segalanya. Hanya sebatas kabar.
Ketika mempelajari asma Allah, terpaksa harus menghafalkan lafal lafal Allah dan sifatnya. Akalnya tidak dikuasai oleh Alloh. Akalnya dikuasai oleh dirinya sendiri. Akalnya dikuasai bahkan diatur oleh ilmunya, Mahluk dijadikan dasar untuk memanjat kepada Allah. Ilmu yang di ketahui dijadikan alat untuk mendekat kepada Allah
Dia akan tunduk dan patuh jika akalnya setuju atau terpaksa menerima. Selama sesuai dengan ilmunya.
Kebanyakan manusia berada dalam tataran ini. Walaupun secara naluri manusia sudah tertancap iman akan bereradaan dan kekuasaan Alloh. Alam semesta yang ada rermasuk dirinya sendiri menjadi sekat jurang pemisah antara Allah dengan mahluk. Terjadi pembatas antara Alloh dengan dirinya. Walaupun sudah dijelaskan bahwa Alloh tidak jauh dan lebih dekat dengan urat nadinya sendiri.
Berdasarkan kenyataan inilah para ulama mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berdzikir dan meningkatkan kuantitas dan kualitas dzikir kepada Allah.
Semoga bimbingan para alim ulama bisa dijalankan walaupun memang kenyataan kita orang awam memang tertutup. Terhijab kepada Alloh. Manusia pada umumnya terdapat tirai penghalang kepada Allah. Apalagi orang orang yang tidak beriman kepada sang pencipta. Orang yang tidak mempercayai adanya tuhan. Terutama yang menolak.
Ini tidak membahas agama. Namun dengan iman itu manusia akan beragama. Agama apapun yang dianutnya, dia tetap pada tataran ini kecuali orang orang yang diberi taufiq hidayah Allah SWT. Orang yang dituntun Rosululloh SAW.
Hal ini menimbulkan pemahaman bahwa agama apapun sama. Mau dia beragama katholik, hindu, budha ataupun islam, sama saja dihadapan sang pencipta. Sebab keberadaannya tidak sedang berhadapan dengan Penciptanya. Walaupun sudah menyatakan islam manun dia sedang tidak musyahadah. Ketika ibadah masih membutuhkan konsentrasi untuk menghadapkan dirinya kepada tuhan. Sehingga mau tidak mau bahwa Alloh menempati tempat. Dia berupaya mewajahkan dirinya kepada Allah.
Kalau orangnya beragama yahudi atau nasrani, dia membayangkan Yahfeh berada di langit sana.
Kalau orangnya beragama hindu atau budha, dia membayangkan bahwa Allah ,( Sang Hyang Widhiwasa ) berada di nirwana sana.
Kalau orangnya beragama islam, dia membayangkan bahwa Allah berada di atas arasy sana.
Sehingga Allah berada di sana disuatu tempat. Berada ditempatnya. Yaitu di sana.
Memang jelas ayatnya yang mana telah Allah Ta’ala kitabkan untuk diriNya dalam tujuh ayat Al-Quran, yaitu Surat Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4 dan Al-Hadid: 4, semuanya dengan lafazh:
ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
Artinya:
“Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).”
Dan dalam Surat Thaha 5 dengan lafazh:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Artinya:
“Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.”
Secara harfiyah bahasa penulisan sangat menunjukkan sebuah tempat.
Disinilah keadaan iman bil aqli, iman bil ilmu dan iman yang sederajat terkebiri. Hingga terjadi pertanyaan pertanyaan tanpa ada jawaban yang memadai. Sebab jawabannya pada akal fikiran itu sendiri. Jawabannya dibatasi oleh pertanyaannya sendiri. Keimanannya dibatasi dan ditopang oleh mahluk.
Perintah berdzikir kepada Allah, diwajibkan bagi orang yang tidak sadar kepada Allah. Perintah berdzikir diwajibkan kepada para ghofilin. Termasuk kepada diri kami sendiri yang senantiasa jinabatil ghuflah.
Bagi para kekasih Allah, bagi auliya Allah, sudah melampaui tingkatan dzikir. Logikanya, bahwa apakah mungkin orang yang berhadapan atau bersama dengan sesuatu masih harus mengingat sesuatu yang dihadapinya?
Keadaan sadar itu kedudukan iman yang sedang berhadapan dengan yang diimani. Sadar kepada Allah merupakan keadaan Iman Musyahadah yang senantiasa sedang berhadapan kepada Allah. Sadar itu tidak dipengaruhi oleh apapun kecuali yang disadarinya.
Keadaan sadar hanya dipengaruhi oleh Allah sendiri. Selain Alloh tidak menjadi acara bagi orang yang sudah sadar. Terbukanya penghalang kepada Allah merupakan kesadaran akan kedudukan Allah, akan sifat sifat Allah ( Wahidiyah ). Terbuka kesadaran akan Dzat Allah ( Ahadiyah ). Tersingkapnya kenyataan akan ketergantungan mahluk kepada kholiq ( Shomadiyah )
Istilah sadar berasal dari beliau Mu`allif sholawat Wahidiyah yang merupakan terjemahan bebas dari kata MA`RIFAT.
Semoga kita diberi kesadaran kepada Allah setepat tepatnya. Aamiin yaa robbal `aalamiin.
Keadaan ini hanya akan terjadi bagi orang yang senantiasa didampingi Rosululloh SAW. Senantiasa Takdziiman, Ikroman wa Mahabbatan.
Yaa Rosulalloh, syafa`atilah kami yang senantiada dzolim dan berlumuran dosa ini. Kami tidak mampu menghadap Allah tanpa paduka. Bahkan kami juga terhalang kepada paduka. Namun apapun kami, tarbiyah paduka kami dambakan. Yaa Sayyidii Yaa Rosulalloh... Alfaatihah...
Wassalamu`alaikum wr wb.
Komentar