ORANG YANG DEKAT GHOUTSUZ ZAMAN RODHIYALLOHU ANHU ITU PASTI DEKAT ROSULULLOH SAW.


TIADA JALAN UNTUK HADIR DI HADAPAN ALLAH KECUALI MAKMUM DI BELAKANG MUROBBUUN

ORANG YANG DEKAT GHOUTSUZ ZAMAN RODHIYALLOHU ANHU ITU PASTI DEKAT ROSULULLOH SAW.

Bismillahir rohmaanir rohiim.
Assalamu`alaikum wr wb.

Bidang taqorruban ilalloh, merupakan bidang pokok dalam dunia wushul kepada Alloh SWT.

Semua bentuk amalan wushul, selalu menggunakan alat taqorrub. Alat atau amalan khusus untuk mendekat kepada Allah SWT.

Kebanyakan alat yang ada, umumnya menggunakan ASMA ALLOH, ASMAUL A`DZOM DAN/ ATAU ASMAUL HUSNA. Atau amalan / wirid wirid khusus atau potongan ayat yang ditentukan oleh mursyid.

Manusia modern sudah mulai awam bidang wushul. Urusan wushul ini terkikis pelan pelan seiring perubahan zaman serta pola berfikir manusia modern itu sendiri.  Keadaan inipun memang sudah menjadi sunnatulloh yang tidak bisa dielakkan oleh manusia. Apalagi dengan runtuhnya kehalifahan yang disebabkan oleh perebutan kedudukan khalifah yang berlangsung ratusan tahun hingga akhirnya benar benar runtuh.

Keawaman manusia modern kepada tuhan bisa kita lihat dari sekian jumlah ulama yang berkompeten untuk menyampaikan urusan ketuhanan, mereka sudah tidak lagi menekankan bidang wushul.

Kebanyakan para ulama lebih menekankan ummat pada bidang ilmu dan amal. Karena memang sabda baginda SAW memang begitu adanya.

Jika ada suatu kaum yang menggali bidang taqorruban, kebanyakan mereka berhenti pada bidang karomah karomah kauniyah yang bisa dinikmati secara lahiriyah. Sehingga banyak pendapat bahwa seseorang yang sudah memiliki karomah sudah dianggap waliyulloh. Banyak para murid suatu perguruan memperbincangkan orang orang yang khorikul adah diistimewakan.
Memang khorikul adah itu berbeda dengan yang lain. Prilakunya tidak umum.

Dari sekian banyak lembaga ilmu belum dibarengi bimbingan bimbingan yang menekankan betapa wajibnya manusia itu menetapi baiat kepada sang khalifah fil ardhi.

Di sisi lain, beberapa kelompok  yang sudah mengakar di masyarakat melalui tharekat tharekat yang menekankan bidang wushul justru menjadi kelompok yang didiskreditkan sebagai kelompok yang makin kurang diminati ummat.

Barulah di era menjelang perang dunia ke II kelompok yang menekankan bidang wushul,  baik dari kalangan tharekat maupun perguruan wushul lain mulai kembali mendapatkan angin segar di hati masyarkat. Namun ummat  sudah  kehilangan figur figur yang menuntun manusia kepada tuhan.
Ketika ummat merasakan betul betul butuh pertolongan Allah. Namun tali itu sudah terputus. Figur figur yang dikenal sudah menginggalkan alam fana` ini.

Di saat mausia beriman mangalami kebuntuan bidang pertolongan Allah, khususnya bidang iman maka Allah menurunkan Shalawat yang membuka jalan wushul  kembali kepada Allah.

Seorang  kekasih Allah. HADROTUS SYEH AL ARIF BILLAH WABI AHKAAMIHI MBAH KYAI HAJI ABDUL MADJID MA`ROEF QODDDASALLOHU SIRROHU WA RODHIYALLOHU ANHU  ditajalli dengan qohharnya melalui Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam hingga mentaklif Sholawat Wahidiyah berikut ajarannya. Mbah Yahi Qs Wa Ra dipaksa bangkit untuk berbuat bagi ummat.


Amalan Sholawat Wahidiyah merupakan satu satunya alat pendekatan yang menggunakan Sholawat. Sedangkan 12.000 macam Sholawat lainnya yang sudah ada bukan merupakan Amalan untuk wushul akan tetapi merupakan amalan untuk amal sholeh yang kebanyakan oleh para mursyid dijadikan pendamping amalan wushul, sebab dari sekian banyak sholawat yang ada oleh pentaklif sholawat itu sendiri memang bukan untuk tujuan tushilu ilalloh. Sehingga jelas kami katakan bahwa Sholawat Wahidiyah adalah satu satunya amalan Sholawat yang dipergunakan untuk wushul.

Namun tidak menutup kemungkinan di masyarakat juga banyak yang mengamalkan amalan Sholawat Wahidiyah namun bukan untuk tujuan wushul. Hal ini menunjukkan betapa fleksibel sekali amalan Sholawat Wahidiyah. Menunjukkan betapa sempurnanya amalan Sholawat Wahidiyah. Bahkan amalan Sholawat Wahidiyah bisa dipergunakan untuk segala kebutuhan terutama untuk menjernihkan hati dan sadar/ ma`rifat billah wa rosulihi SAW.

Ketika manusia diberi rasa ingin mendekat, maka manusia itu akan bersungguh sungguh dalam mengamalkan Sholawat Wahidiyah dengan mengikuti tuntunan dan kaifiyah yang ada. Tidak hanya sekedar mencari manfaat manfaat bagi kebutuhan kehidupannya.

Manusia itu akan berupaya meningkatkan diri untuk taqorruban ilalloh wa rosulihi SAW dibelakang paduka Ghoutsi Hadzaz Zaman RA. Manusia itu akan berupaya sekuat tenaga untuk menerapkan ajaran ajaran Wahidiyah yang pada dasarnya senantiasa sudah menjadi tradisi pelaksanaan kehidupan para kekasih Allah.

Bagi para auliya alloh, urusan kehidupannya tidak lagi menjadi acara. Mendekat kepada Allah menjadi acara pokok dalam aktifitasnya. Hajat kehidupannyapun menjadi tidak ada kecuali hanya Yukti Kulla dzi haqqin haqqoh. Kecuali hanya sekedar mengisi bidang kewajiban tanpa ada tuntutan akan hajat dan hak hak pribadi.

Seseorang yang menghendaki wushul kepada Allah akan berusaha memperoleh bimbingan guru/mursyid yang menuntun seluruh aktifitas kehidupannya.

Ketika sudah menemukan guru pembimbing yang mampu menerobos jiwanya hingga dia memperoleh perubahan peningkatan imannya, dia tidak lagi ke sana kemari untuk mencari ilmu. Apa lagi mencari perbandingan antara yang satu dengan yang lainnnya. Jadi sangat berbeda bagi yang belum menemukan guru mursyid yang kamil/ sempurna serta mukammil / menyempurnakan iman orang lain.

Bidang wushul kepada Allah, merupakan bidang kesadaran yang paling didambakan oleh seorang salikun ( orang yang sedang mendekat kepada Allah ) apalagi bagi muridun. Sudah tidak ada perasaan was was akan apa yang sedang dikerjakan. Sholatnya, puasanya, zakatnya, serta semua amalnya atas bimbingan gurunya yang menuntun lahir maupun batin. Dia senantiasa makmum serta ru`yu kepada gurunya. Dia senantiasa takdzim kepada gurunya. Mengagungkan kedudukan gurunya di sisi Allah atas dasar haq. Menulyakan pangkat gurunya atas dasar hukum Allah. Mencintai  gurunya atas dasar sifat Allah yang maha rohman rohim. Baginya tidak ada jalan lain nenuju Allah kecuali mengikuti gurunya. Sehingga dia betul betul mula`im kepada gurunya sebagaimana gurunya yang senantiasa tawajjuh kepada Allah. Dia menyadari betul bahwa gurunya senantiasa menuntun aktivitasnya disegala bidang yang dia kerjakan.

Dalam sebuah kisah, diceritakan tentang keadaan seorang muridnya Syaihuna Hasan As Sadzali Rodhiyalllohu Anhu.
Pada mulanya sang murid tidak bisa menerima keadaannya sendiri yang sebenarnya tidak bisa hadir di hadapan Allah. Ketika diperintah untuk menetapkan hatinya agar senantiasa terpaut kepada gurunya dalam setiap perbuatan ibadahnya ( tawajjuh). Perintah itu diawali ketika sang murid diajak oleh Syaihuna Hasan Sadzali berjalan menyebrangi lautan dengan berjalan kaki. Di tengah lautan hati sang murid diuji. Hatinya mulai miskil dan berkata kenapa aku kok diajari tawajjuh kepada guru dan tidak kepada Allah?. Maka spontan dia terjerembab ke dalam lautan dan secepat kilat ditarik kembali ke permukaan dan sesampainya disebrang sang murid diberi penjelasan tentang keadaan dirinya yang tidak bisa tawajjuh kepada Allah tanpa murobbuun.

Sejak itu sang murid sadar hingga dia senantiasa makmum kepada Syeih Sang Murobbun kala itu yaitu Syaih Hasan Sadzaly RA.
"= Syaih Hasan Sadzaly adalah Murid dari Syaih pemilik Sholawat Al Masyisiyah R A . Beliau memiliki Murid bernama Syaih Abil Abas Al Mursi R A. Dan Syaih Al Mursi ini memiliki murid bernama Syaih Ibnu Athoillah As Sakandariyah yang mentaklif al kitab Al Hikam yang sudah beredar di mana mana dan ditranskrip ke berbagai bahasa oleh para ulama hikam sesudahnya.

Singkat cerita, sang murid betul betul menerapkan mutaba`ah. Sang murid senantiasa ru`yu ke pangkuan syaih Hasan Sadzaly RA.

Sehingga pada masa puncak penerapan dalam berguru, sang murid menyaksikan betul bahwa sang guru seakan akan baginda Rosululloh SAW. Hingga pada suatu saat, sang murid matur kepada beliau sang guru " Yaa `ustadi !  Inni roaitu kaannaka Rosululloh shollallohu alaihi wasallam" Duhai Guruku. Sesungguhnya aku menyaksikan  seakan akan paduka guru adalah Rosululloh SAW.

Mendengar pernyataan itu dari muridnya beliau Syaih Hasan Sadzaly RA diam saja dan tidak berkata apa apa.

Melihat kenyataan ini, kami sendiri yang diberi kesempatan menulis sepotong cerita ini merasa sangat jauh dari harapan sebagai murid. Betapa jauhnya kami dari beliau Ghouts Hadzaz Zaman RA.

Pengamal Sholawat Wahidiyah diberi bimbingan untuk berguru ke pangkuan kanjeng sinuwun Ghoutsi Hadzaz Zaman RA.

Ternyata, melalui tulisan ini Terutama kami yang menulis ini betul betul jauh dari lingkaran ini. Betapa tidak pantasnya kami menyatakan sebagai murid paduka RA.  Jangankan penerapan Ru`yatul matbu` . Belajar ingat kepada paduka saja sudah sulit. Melihat pekerjaan, masih tampak pekerjaan. Melihat anak istri, belum tampak guru pembimbing rohani yang sebenarnya senantiasa menunggui semua yang dikehendaki Allah. Melalui tulisan ini kami yang diberi kesempatan menulis ini semoga diampuni atas ketidak sesuaian maksud dan kandungan yang sebenarnya. Sebab kami sebenarnya betul betul tidak mengetahui tentang hal ini. Kami hanya mendengar sepotong dua potong dawuh paduka diberbagai kesempatan dan sebenarnya kami belum bisa menerapkan mutaba`ah. Jika terjadi salah maksud, semoga beliau RA berkenan mengulurkan samudra ampunan. Semoga paduka RA tidak jemu menunggui kita semua yang senantiasa dicengkram oleh hawa nafsu kami sendiri. Alfaatihah.

Wassalamu`alaikum wr wb.

Denpasar 18 nopember 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WAHIDIYAH DAN AHADIYAH

TIPU DAYA NAFSU

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA VERSI TAUHID (Lanjutan 2 )