ANTARA WALIYULLOH DAN WALIYUS SYAITHON

SEMUA MANUSIA ITU PASTI MENJADI WALI DI MUKA BUMI.

Assalamu`alaikum wr wb
Bismillahir rohmaanir rohiim.

Kita dihadirkan di permukaan bumi, bukan atas kemauan kita. Ini tentunya sangat perlu kita sadari bahwa ada misi dari yang menghadirkan.

Manusia dihadirkan untuk melaksanakan misi dari yang menghadirkan namun kebanyakan manusia lupa kepada yang menghadirkan. Kedua orang tua kita menjadi alat kehadiran kita. Itupun jangan sampai kita lupakan walaupun hanya sekedar alat. Sebab di permukaan bumi ini senantiasa membutuhkan alat untuk segala manifestasi.

Semoga kita tidak mengingkari keberadaan kita di permukaan bumi. Jangan sampai saat kita kembali tidak membawa laporan pertanggung jawaban.

Kita hidup di muka bumi ini tiada lain hanya melaksanakan misi dari yang menghadirkan. Kita seharusnya mewakili tugas yang menghadirkan secara lahiriyah maupun batiniyah. Jasmani rohani tanpa terpisahkan.

Semoga melalui sekelumit kajian ini menjadi sebab terbukanya kesadaran seluas luasnya. Terutama bidang yang sangat pokok yang tentunya menjadi tanggungjawab kita masing masing.
Semoga kita diberi pemahaman sesuai dengan maksud yang dikehendaki oleh yang maha berkehendak.

Banyak pemahaman pemahaman yang masih perlu diluruskan dan ditepatkan di kalangan manusia. Hal ini sangat perlu bagi kita yang diberi iman Billah ini tidak melenceng dari keberadaan manusia itu sendiri di hadapan Allah. sehingga tidak terjadi kesalah pahaman di kalangan manusia akibat kurang sesuai dalam pemahaman. Terutama bagi pelaku tauhid.

Orang umum mengartikan Wali adalah Wakil. Walaupun secara spesific sebenarnya tidak tepat jika diartikan dengan arti Wakil. Namun tidak sepenuhnya salah, sebab secara kandungan dari makna Wali masih ada unsur makna sebagai yang mewakili. Namun secara tauhid, kita diuji secara besar besaran. Banyak pelaku yang belum diberi kesadaran hingga mengaku aku menjadi Waliyulloh. Walaupun tidak selamanya diucapkan namun bisa dirasakan.

Wali itu secara harfiyah berasal dari kata Al Waliyyu yang merupakan salah satu asma Allah yang baik ( asmaul husna ) yang artinya adalah sifat Allah yang maha melindungi.

Maka wali itu bukan orang. Wali itu bukan manusia.
Al Waliyyu itu menunjukkan sifat dan kedudukan Allah yang tidak boleh disandang oleh mahluk. Ini sangat penting dipahami jika kita termasuk orang yang diberi bisa menerapkan tauhid ( Wahidiyah )

Arti kata Al Waliyyu ( asmaul husna) adalah sifat Allah yang maha melindungi. Sifat Allah yang menguasai. Maka sudah barang tentu ada obyek yang dilindungi atau dikuasai iaitu mahluk termasuk manusia.

Jika Allah menunjuk seorang hamba bahwa dia si fulan itu kecintaanku. Si fulan itu dalam genggamanku. Si fulan itu dalam perlundunganku, tentu dia si fulan itu menjadi obyek yang dilindungi oleh Allah. Yang dikasihi Allah, yang ditolong oleh Allah

Maka sudah tentu ketika si fulan berbuat sesuatu, tentu dia si fulan itu  berbuat bukan atas kemauannya. Dia berbuat sesuatu hanya mewakili perbuatan Allah.

Sebagaimana para Anbiya wal mursalin. Para Nabi dan Rosul. Para kekasih Allah kesemuanya berbuat atau melaksanakan sesuatu bukan atas kemauannya. Mereka berbuat murni mewakili Allah. ( Billah )

Sebagai contoh, kita diberi tahu soal warna. Ada merah, kuning, hijau dan sebagainya. Warna merah tidak pernah ingin jadi kuning. Begitu juga warna warna lainnya. Warna merah hanya mewakili sifat merah. Warna merah itupun tidak pernah punya keinginan menjadi merah apa lagi menjadi kuning.
Yang menjadi Subyect adalah sifat warna itu sendiri dan obyectnya adalah warna dari sifat warna.

Namun ini hanya sekedar pendekatan saja yang tentunya belum sepenuhnya tepat. Sebab pendekatan itu hanya untuk membantu pemahaman saja.

 Semoga kita diberi pemahaman atas taufiq hidayah Allah tentunya.

Berbicara soal obyect, maka mahluk itu sebagai obyect dan Allah sendiri sebagai subyect.
Obyect tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi penentu. Akal fikiran itupun object. Nafsu itu juga object.Apapun itu mahluk hanya object.

Jika kita sempat membaca sebuah sabda bahwa " Laa ya`riful waliy illal waliy. ( Tidak ada yang mengetahui waliy kecuali Wali.) Maka maknanya kurang lebih yaitu "Tidak ada orang yang mengetahui ( siapa) yang dilindungi kecuali yang melindungi. Tentunya yang mengetahui hanya Allah. Maka sangat beruntung sekali seorang hamba yang senantiasa dilindungi, dikuasai Allah.

Dalam bahasa mahluk, manusia menjalani dua hal dalam berupaya.

Orang bertauhid, menjalani serta mengupayakan diri dalam bentuk tindakan , permohonan  atas dasar perintah Allah ( Lillah ) Penerapan " Iyyaka na`budu wa iyyaka nasta`iin ( Hanya kepadamu yaa Allah kami mengabdi dan hanya kepadamu kami memohon pertolongan.)

Orang yang Non tauhid ( Musyrik ) apalagi yang ingkar  menjalani serta mengupayakan diri dalam bentuk permohonan atas dasar kemauannya sebab nafsunya menginginkan hajadnya terpenuhi.  Pengabdian dan permohonan kepada Allah tidak terjadi walaupun kelihatannya memohon pertolongan tuhan. Yang ada hanya pengabdian dan permohonan menuruti nafsunya.
Nafsunya mewakili syetan dalam segala tindakannya. Walaupun kelihatan baik, tetap dia itu adalah wakil syetan.

Berkenaan dengan istilah Wali, maka manusia itu bisa menjadi waliyulloh dan juga bisa menjadi waliyus syaithon.

Bagi yang diberi iman Billah, semua tindakannya mewakili Allah. Tidak ada unsur dirinya dalam tindakannya kecuali sebagai object dari subject. Semua aktifitasnya atas dasar Lillah dan Billah, dengan manifestasi Lirrosul Birrosul dalam bentuk praktek Lil Ghoust Bil Ghouts. Semua tidakannya berupa Yukti kulladzi haaqin haqqoh, Taqdiimul Aham Fal Aham, Tsummal Anfa` Fal Anfa`.

Bagi yang di luar Lillah Billah_Lirrosul birrosu_Lilghouts bilghouts, semua tindakannya senantiasa mewakili keinginan nafsunya yang senantiasa dikawal oleh Syetan walaupun kelihatannya baik. Sebab kebaikan itu bukan Perintah Allah. Dasar perbuatan kebaikannya ada udang dibalik batu. Yaitu Nafsunya sendiri yang disetir oleh syetan.

Sebab begitu kerasnya larangan menjadi waliyus syaithon, Allah menyematkan larangan bagi anak cucu Nabi Adam jangan sampai menjadi hamba syetan. Seperti yang tertuang dalam surah Yaasin:

أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ ۖ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
60. Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu",

61
وَأَنِ اعْبُدُونِي ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ
61. dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus.

Wassalamu`alaikum wr wb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WAHIDIYAH DAN AHADIYAH

TIPU DAYA NAFSU

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA VERSI TAUHID (Lanjutan 2 )