CINTA ITU BUKAN HAK MANUSIA


CINTA ITU BUKAN HAK MANUSIA

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Assalamu`alaikum wr wbْ
Dalam kehidupan sosial kita sering mendengar istilah MAHABBAH ( CINTA ). Di sana sini kita sering menggunakan kata cinta.

Memang tidak sedikit manusia mengalami kebahagiaan dengan menggunakan kata cinta. Namun jauh lebih banyak manusia mengalami sakit hati akibat kesalahan dalam menggunakan kata cinta. Apalagi menuruti rasa cinta.

Mahabbah atau cinta adalah pemberian Allah tuhan yang maha mengasihi dan merawat mahluknya. Manusia yang sadar akan sifst Allah, tidak akan mencintai sesama menurut kemauannya. Manusia yang menyadari kedudukan cinta, tidak akan menggunakan cinta tanpa dasar haq.

Kita melihat sepintas seseorang mencintai orang lain, mencintai mahluk lain, merawat mahluk ciptaan Allah. Cinta antar manusia. Kita perlu menyadari bahwa semua  ini terjadi akibat dari sifat Allah yang maha merawat ( IMDAD ) senantiasa memancar kepada mahluknya. Sebab tidak mungkin ibarat orang membuat sesuatu kemudian membenci buatannya sendiri.

Manusia yang dipancari sifat Imdad ( sifat merawat ) tentu akan tampak sifat kasih dan sayangnya kepada dirinya sendiri dan kepada lainnya. Ketika sifat Imdad itu diambil oleh yang punya yaitu Allah, maka hilanglah kasih dan sayang pada orang tersebut.  Maka yang timbul adalah sifat acuh bahkan benci. Sifat merawat berubah menjadi sifat merusak tanpa disadari.

Untuk lebih mengenal tentang cinta, kaum muslimin dari kalangan sufi, diperkenalkan dan diajari tentang mahabbah. Terutama guru rohani yang diberi mandat labgsung oleh Allah atas jasa Rosululloh SAW. Senantiasa menerapkan hukum Allah dalam kehidupan. Sang guru rohani senantiasa mendahului sifat cinta dari pada sifat murkanya Allah.

Cinta atau mahabbah yang diberikan oleh Allah kepada mahluknya sejalan dengan sudut pandang bagaimana manusia itu melihat cinta.  Maka di sini kami uraikan sedikit tentang macam macam cinta menurut kadar yang ada dalam hati seseorang.

1. MAHABBAH FI`LIYAH.
Mahabbah jenis ini hanya cinta sebab perbuatannya. Cinta semacam ini kualitasnya sangat rendah. Ketika orang yang dicintainya tidak sesuai dengan nafsunya atau keinginannya, maka lunturlah rasa cinta yang ada dihatinya. Ketika sudah luntur rasa cintanya, bisa terjadi kebalikannya.
Cinta semacam ini dikuasai oleh akal fikiran.  Contohnya sering kita saksikan dalam kehidupan sosial. Seperti cinta anak cucu adam kepada sesama. Cinta anak cucu adam kepada mahluk di sekitarnya sebab gerak geriknya. Cinta sebab tingkahnya yang menyenangkan. Mungkin tutur katanya dan lain sebagainya.

2. MAHABBAH SIFATIYAH
Jenis cinta ini lebih kuat dan mendalam. Tidak mudah dipengaruhi oleh perbuatan ( Fi`liyah ). Sifat cinta itu sendiri yang menjadi sebab timbulnya cinta. Walaupun perbuatannya tidak sesuai, rasa cinta tetap melekat. Cinta semacam ini didorong oleh hatinya yang dipenuhi oleh sifat Allah yang maha mengasihi, rasa cinta ini tidak pernah luntur hingga waktu yang dikehendaki dan Allah sendiri yang mengambilnya.
Contohnya seperti cinta orang tua kepada anaknya. Atau cinta anak kepada orang tuanya. Cinta ini datang secara naluri tanpa dibuat buat. Sangat murni. Tidak perlu melihat prilakunya. Tidak menghitung untung ruginya.

Cinta sifatiyah, bukan sifat orangnya akan tetapi sifat dari cinta Allah yang tertanam dalam diri mahluk. Mahluk tidak memiliki sifat Allah.

Hanya orang yang bersih hatinya yang bisa melihat cinta Allah. Cinta buatan manusia tidak pernah permanen.

3. MAHABBAH DZATIYAH.

Cinta jenis ini yang disebut cinta sejati. Berasal dari sinilah segala bentuk cinta. Baik itu mahabbah fi`liyah maupun mahabbah sifatiyah. Sebab keberadaan Dzat mahabbah ini hingga mahabbah sifatiyah dan mahabbah fi`liyah terjadi. Manusia yang diberi kesempatan melihat Mahabbah Sifatiyah akan lebih mudah menyadari  kenyataan mahabbah dzatiyah.  Ketika seseorang diberi kesempatan menyaksikan mahabbah dzatiyah ketika itulah orang tersebut berhak menyandang tugas untuk menyalurkan imdad Allah dipermukaan bumi. Dia betul betul dikuasai oleh  dzat mahabbah itu sendiri. Hingga kalangan sufi menyebutnya dengan gelar MUHIBBIN. Golongan orang yang dicintai Allah pemilik mahabbah. Jika dia mencintai orang atau mahluk, atas dasar cinta Allah kepada mahluk.
Pada dasarnya tidak ada orang yang mampu menerapkan jenis cinta dzatiyah kecuali hamba Allah yang dikasihi.

Hamba Allah yang dikasihi ini tidak banyak. Beliau hanya satu satunya orang yang diberi bisa menerapkan hukum Allah di muka bumi. Beliau satu satunya hamba yang diberi bisa menerapkan cinta kepada manusia dan kepada mahluk pada umumnya. Orangnya hanya satu di permukaan bumi. Selain beliau, tidak berhak menggunakannya kecuali hanya sekedar luberan dari cinta Allah kepada beliau sang muhibbin dan melalui beliau sifat cinta itu memancar ke seluruh alam. Gelar yang disematkan oleh Allah sendiri tanpa campur tangan mahluk. Bahkan beliau sendiri tidak berani menyatakan dirinya sebagai HABAIB. Beliaulah kecintaan Allah. Selebihnya hanyalah luberan dari pancaran mahabbah beliau kepada semua mahluk. Barang siapa yang diberi kesempatan bertemu dengannya, maka akan dipancarai sifat cinta Allah. Selama orang tersebut mengarahkan jiwanya sesuai dengan adab yang dikehendaki oleh Allah.

Barang siapa yang mendekat kepada sang Habaib dengan cara yang sesuai dengan hukum Allah, maka akan tersinari sifat mahabbah Allah melalui sang Habaib tersebut.

Kaum muslimin menyadari betul bahwa Habaib yang sesungguhnya adalah Muhammad Rosululloh SAW. Sepeninggal beliau sifat Allah tersebut diwariskan kepada satu orang dari sekian ulil amry yang betul betul mengemban agama suci yang diridhai Allah. Dia menjadi sang pewaris sifat rosul. Apabila dia meninggal maka Allah mewariskan kepada pewaris berikutnya. Hal ini terjadi terus menerus hingga datangnya hari kiamat.

Sang Habaib tersebut betul betul haq  urusan Allah. Manusia tidak memiliki hak untuk menyematkan sifat ini.

Menurut beberapa pesan baginda Muhammad Rosululloh SAW sendiri
Bahwa sifat Mahabbah sepanjang masa diturunkan kepada hamba Allah yang sejati. Sifat cinta tersebut diberikan kepada generasi keturunan beliau SAW. Namun setelah berselang beberapa tahun kemudian Allah mewariskan kepada hambanya yang shaleh kepada siapa yang dikehendaki.

Kewajiban kaum muslimin adalah mempertahankan dan meningkatkan keimanan kepada Allah dan Rosulnya. Meyakini dari sekian Habaib, terdapat satu Naibur Rosul yang mewarisi sifat sifat   Rosul yang senantiasa berbelas asih kepada para manusia dan kepada semua mahluk pada umumnya. Beliaulah Habaib sejati. Tanpa belas asih Sang Habaib, dunia ini akan hancur binasa. Yang artinya akan binasalah alam fana ini.

Sudah barang tuntu dalam rangka menjalani kehidupan yang aslinya ditopang oleh sang habaib, khususnya di ahir zaman ini sudah sangat sulit. Semakin kita menjauh dari aturan tuhan (sunnatullah) maka semakin sulit mengimani sang Habaib. Sebab sifat cinta Allah itu tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Banyak manusia tertipu sebab menggunakan mata lahir.

Soal iman tidak bisa diukur dengan lahiriyah. Sama halnya dengan sifat roufur rohim Allah kepada mahluk. Ini jelas tidak bisa diketahui oleh orang awam tauhid. Apalagi dalam kegiatan sehari harinya lepas dari hukum Allah.

Maka kita sangat perlu memperbaiki dan meningkatkan iman. Memenuhi rukun rukun iman. Tanpa kelengkapan itu semua tidak bisa terjalin hubungan dengan sifat sifat Allah yang sebenarnya memenuhi alam semesta ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WAHIDIYAH DAN AHADIYAH

TIPU DAYA NAFSU

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA VERSI TAUHID (Lanjutan 2 )