DIKATAKAN MUTTAQIIN BILA SUDAH MEMENUHI UNSUR DALAM AJARAN WAHIDIYAH
DIKATAKAN MUTTAQIIN BILA SUDAH MEMENUHI UNSUR DALAM AJARAN WAHIDIYAH
Bismillahir rohmaanir rohii.
Assalamu`alaikum wr wb.
Kebetulan kita bersama sama menjalani bulan suci Ramadhan. Bulan yang sangat dimulyakan oleh Allah SWT. Bulan yang dikitabkan/ ditetapkan dalam Alquranul karim dengan maksud agar manusia itu mencapai taqwa.
Begitu dalam Alquran Allah SWT berfirman:
يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183)
Bidang syariat, kita jalani sekuat tenaga atas dasar perintah Allah sesuai tuntunan.
Manusia dikatakan bertaqwa ketika sudah memenuhi perintah Allah ( LILLAH ) dan lepas dari keinginan. Sedangkan manusia bertaqwa itu sendiri masih dalam teka teki besar apabila belum menerapkan bahwa kemampuan untuk menjalankan perintah Allah itu sebab kehendak dan titah kekuatan Allah sendiri yang diberikan kepada manusia ( BILLAH )
Lillah dan Billah itu merupakan ajaran pokok Wahidiyah. Jadi untuk lebih menmahami betul kami sarankan untuk mengamalkan dan mendalami ajaran Wahidiyah yang sudah baku di bukukan dalam buku pedoman pojok ajaran Wahidiyah cetakan untuk kalangan sendiri oleh Yayasan Perjuangan Wahidiyah Dan Pondok Pesantren Kedunglo Kta Kediri Jawa Timur atau menghubungi Kantor Kantor Perwakilan Perjuangan Wahidiyah Daerah di seluruh nusantara dan kantor PW di luarnegri yang sudah didirikan.
Selama manusia belum menerapkan Lillah dan Billah, dan lebih sempurna yaitu menerapkan Lirrosul Birrosul, maka belum bisa dikategorikan sebagai manusia bertaqwa. Sebab dalam berpuasa Ramadhan atau ibadah apapun, masih ada campuran ( SYARIKAH ) maksud lain. Bahkan selama tidak menerapkan ajaran Wahidiyah, semua bentuk peribadatan ditolak oleh Allah.
Taqwa itu sendiri diartikan takut yang mengandung unsur Khouf War Roja`. Khouf = takut. Roja = kembali.
Jika kita koreksi bersama dengan seksama, seharusnya para pengamal Sholawat Wahidiyah sudah ditempatkan pada derajat Muttaqiin. Semestinya semenjak seorang pengamal mulai mengamalkan sesuai kaifiyah yang sudah ditentukan, tentunya sudah disiapkan tempat di sisi Allah. Namun kembali kepada kita masing masing. Bagaimana kita mengamalkan Sholawat Wahidiyah beserta ajarannya.
Ada seseorang yang mengamalkan Sholawat Wahidiyah sebab suatu hal. Mungkin sebab masalah kehidupan yang tidak bisa teratasi, mungkin sebab ikut ikutan, atau mungkin coba coba dan lain sebagainya.
Semoga melalui koraksi bersama ini kita diberi taufiq hidayah Allah SWT. Sehingga Ajaran Wahidiyah yang sudah sempurna ini menjadi sebab kesempurnaan bagi kita yang bersungguh sungguh mengamalkannya. Memang kita sadari bersama bahwa kita ini manusia dari kalangan biasa. Terutama kami pribadi, bukan keturunan nabi. Bukan Dzurriyah beliau SAW. Akan tetapi dengan dikenalkannya Sholawat Wahidiyah beserta ajarannya, ini sudah merupakan fadhol Allah yang agung.
Bukan Ulama, dan bukan Waliyulloh namun diberi kesempatan bertemu Rosululloh. Minimal diberi kesempatan makmum dalam segala urusan ibadah. Baik itu ibadah yang langsung berhubungan kepada Allah, ( Hablum minalloh ) maupun ibadah umum yang berhubungan dengan sesama manusia. Baik itu yang berhubungan dengan pekerjaan, keluarga, hingga urusan kemasyarakatan, kenegaraan yang kesemuanya itu jika dilaksanakan berdasarkan ajaran Wahidiyah, tentu derajat Muttaqiin akan mendatangi kita tanpa harus di upayakan. Bahkan pengamal Sholawat Wahidiyah juga diberi tempat dimana para Muqorrobun dikumpulkan. Pengamal Sholawat Wahidiyah sudah disiapkan tempat bersama orang orang yang diberi nikmat ila yaumil qiyamah.
Namun sayang seribu sayang. Kita terutama kami pribadi masih kurang perhatian. Dalam mengamalkan Sholawat Wahidiyah beserta ajarannya, masih mengikuti kemauan diri kita sendiri. Belum menerapkan ajarannya secara kaafah. Hingga di sana sini masih timbul suasana kurang sesuai.
Semoga dengan datangnya bulan suci ramadhan ini menjadi sebab yang kuat kita termasuk orang orang yang diberi kesempatan menerapkan ajaran Wahidiyah. Semoga kita diberi bisa menggunakan pupuk yang berupa amalan Sholawat Wahidiyah ini sesuai kehendak beliau. Hingga Baginda Rosul SAW wa Ghoutsi Hadzaz Zaman betul betul menuntun kita hingga singhasana Muttaqiin menyertai kita.
Kita sadari bersama bahwa taqwa itu terjadi ketika seorang hamba dalam aktifitasnya telah memenuhi ajaran Wahidiyah yaitu
LILLAH _ BILLAH.
LIRROSUL _BIRROSUL.
YUKTI KULLADZI HAQQIN HAQQOH.
TAQDIIMUL AHAM FAL AHAM
TSUMMAL ANFA` FAL ANFA`.
Billahi taufiq wal hidayah.
Wassalamu`alaikum wr wb.
Bismillahir rohmaanir rohii.
Assalamu`alaikum wr wb.
Kebetulan kita bersama sama menjalani bulan suci Ramadhan. Bulan yang sangat dimulyakan oleh Allah SWT. Bulan yang dikitabkan/ ditetapkan dalam Alquranul karim dengan maksud agar manusia itu mencapai taqwa.
Begitu dalam Alquran Allah SWT berfirman:
يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 183)
Bidang syariat, kita jalani sekuat tenaga atas dasar perintah Allah sesuai tuntunan.
Manusia dikatakan bertaqwa ketika sudah memenuhi perintah Allah ( LILLAH ) dan lepas dari keinginan. Sedangkan manusia bertaqwa itu sendiri masih dalam teka teki besar apabila belum menerapkan bahwa kemampuan untuk menjalankan perintah Allah itu sebab kehendak dan titah kekuatan Allah sendiri yang diberikan kepada manusia ( BILLAH )
Lillah dan Billah itu merupakan ajaran pokok Wahidiyah. Jadi untuk lebih menmahami betul kami sarankan untuk mengamalkan dan mendalami ajaran Wahidiyah yang sudah baku di bukukan dalam buku pedoman pojok ajaran Wahidiyah cetakan untuk kalangan sendiri oleh Yayasan Perjuangan Wahidiyah Dan Pondok Pesantren Kedunglo Kta Kediri Jawa Timur atau menghubungi Kantor Kantor Perwakilan Perjuangan Wahidiyah Daerah di seluruh nusantara dan kantor PW di luarnegri yang sudah didirikan.
Selama manusia belum menerapkan Lillah dan Billah, dan lebih sempurna yaitu menerapkan Lirrosul Birrosul, maka belum bisa dikategorikan sebagai manusia bertaqwa. Sebab dalam berpuasa Ramadhan atau ibadah apapun, masih ada campuran ( SYARIKAH ) maksud lain. Bahkan selama tidak menerapkan ajaran Wahidiyah, semua bentuk peribadatan ditolak oleh Allah.
Taqwa itu sendiri diartikan takut yang mengandung unsur Khouf War Roja`. Khouf = takut. Roja = kembali.
Jika kita koreksi bersama dengan seksama, seharusnya para pengamal Sholawat Wahidiyah sudah ditempatkan pada derajat Muttaqiin. Semestinya semenjak seorang pengamal mulai mengamalkan sesuai kaifiyah yang sudah ditentukan, tentunya sudah disiapkan tempat di sisi Allah. Namun kembali kepada kita masing masing. Bagaimana kita mengamalkan Sholawat Wahidiyah beserta ajarannya.
Ada seseorang yang mengamalkan Sholawat Wahidiyah sebab suatu hal. Mungkin sebab masalah kehidupan yang tidak bisa teratasi, mungkin sebab ikut ikutan, atau mungkin coba coba dan lain sebagainya.
Semoga melalui koraksi bersama ini kita diberi taufiq hidayah Allah SWT. Sehingga Ajaran Wahidiyah yang sudah sempurna ini menjadi sebab kesempurnaan bagi kita yang bersungguh sungguh mengamalkannya. Memang kita sadari bersama bahwa kita ini manusia dari kalangan biasa. Terutama kami pribadi, bukan keturunan nabi. Bukan Dzurriyah beliau SAW. Akan tetapi dengan dikenalkannya Sholawat Wahidiyah beserta ajarannya, ini sudah merupakan fadhol Allah yang agung.
Bukan Ulama, dan bukan Waliyulloh namun diberi kesempatan bertemu Rosululloh. Minimal diberi kesempatan makmum dalam segala urusan ibadah. Baik itu ibadah yang langsung berhubungan kepada Allah, ( Hablum minalloh ) maupun ibadah umum yang berhubungan dengan sesama manusia. Baik itu yang berhubungan dengan pekerjaan, keluarga, hingga urusan kemasyarakatan, kenegaraan yang kesemuanya itu jika dilaksanakan berdasarkan ajaran Wahidiyah, tentu derajat Muttaqiin akan mendatangi kita tanpa harus di upayakan. Bahkan pengamal Sholawat Wahidiyah juga diberi tempat dimana para Muqorrobun dikumpulkan. Pengamal Sholawat Wahidiyah sudah disiapkan tempat bersama orang orang yang diberi nikmat ila yaumil qiyamah.
Namun sayang seribu sayang. Kita terutama kami pribadi masih kurang perhatian. Dalam mengamalkan Sholawat Wahidiyah beserta ajarannya, masih mengikuti kemauan diri kita sendiri. Belum menerapkan ajarannya secara kaafah. Hingga di sana sini masih timbul suasana kurang sesuai.
Semoga dengan datangnya bulan suci ramadhan ini menjadi sebab yang kuat kita termasuk orang orang yang diberi kesempatan menerapkan ajaran Wahidiyah. Semoga kita diberi bisa menggunakan pupuk yang berupa amalan Sholawat Wahidiyah ini sesuai kehendak beliau. Hingga Baginda Rosul SAW wa Ghoutsi Hadzaz Zaman betul betul menuntun kita hingga singhasana Muttaqiin menyertai kita.
Kita sadari bersama bahwa taqwa itu terjadi ketika seorang hamba dalam aktifitasnya telah memenuhi ajaran Wahidiyah yaitu
LILLAH _ BILLAH.
LIRROSUL _BIRROSUL.
YUKTI KULLADZI HAQQIN HAQQOH.
TAQDIIMUL AHAM FAL AHAM
TSUMMAL ANFA` FAL ANFA`.
Billahi taufiq wal hidayah.
Wassalamu`alaikum wr wb.
Komentar