MENGAKU DZALIM DAN KUFUR ITU BISA MENGUBAH MURKA JADI CINTA DAN BERKAH

MENGAKU DZALIM DAN KUFUR ITU BISA MENGUBAH MURKA JADI CINTA DAN BERKAH

Bismillahir rohmaanir rohiim.
Assalamu`alaikum wr wb.

Kesadaran kepada Allah itu terjadi sebab taufiq dan hidayah yang diturunkan dalam hati manusia. Namun kebanyakan manusia tidak menyadari.

Termasuk menyadari bahwa kita manusia ini benar benar dzalim ( aniaya ) serta kafir ( ingkar ) juga sulit. Kita mengalami kesulitan untuk bertaubat sepanjang kita belum menyadari kekufuran kita. Walaupun kita sudah bertaubat, tetap kita ini kufur. Tidak boleh tidak. Sebagaimana ayat suci menegaskan bahwa kita manusia itu sangat dzalim dan kufur. Semua manusia seperti itu adanya dan tidak boleh tidak.

Allah sendiri yang menyatakan bahwa manusia itu kufur. Dan itu sudah pasti. Semoga kita tidak main main dengan ayat Allah.

Allah menyatakan bahwa manusia itu dzalim serta kafir, bukan lain adalah agar kita yang memang aslinya dzalim serta kufur ini senantiasa menyadari keadaan yang sesungguhnya. Menyadari kedudukan mahluk di hadapan Allah.

Memang kesadaran itu murni hidayah Allah. Sebab itu sekali lagi sepanjang kita belum menyadari kedudukan kita sebagai manusia ini senantiasa dzalim dan kufur, maka selama itu pula kita tidak menyadari kedudukan manusia. Walaupun yang kita pelajari dan yang kita gali sebagai ilmu yang katanya sangat tinggi dan mashur. Maaf, Ilmu mengenal diri mungkin?
Kiranya seorang hamba yang dibuka kesadaran akan kedudukan Allah, niscaya akan mengenal kedudukan hamba yang senantiasa Dhaif, Hina Dina di hadapan Allah. Tiada kata selain "ANA DZALUMUN WA KAFUUR" Aku senantiasa menganiaya diri serta ingkar.

Akan tetapi mengapa kita terutama kami sendiri belum sepenuhnya menyadari keadaan ini. Bahkan ketika teman kita berkata bahwa kita ini kafir, kita spontan tersinggung. Kita tidak teruma dikatakan kafir. Tidak mau diingatkan. Semoga hal ini tidak berlarut larut.

Yaa. Memang pernyataan dzalumun kaffarun  itu hak qudroh irodah Allah semata, maka kita tidak seharusnya melempar kalimat ini kepada sesama manusia tanpa dasar haq. Kita justru tidak sopan ketika kita menggunakan kalimat Allah untuk kita lemparkan kepada  orang lain. Sementara diri kita sendiri sangat Dzalim dan Kufur.  Cukup kita sadati bahwa diri kita sendiri ini memang benar benar dzalim dan kafir.

Terutama pengamal sholawat wahidiyah yang tiap harinya dibimbing untuk menghaturkan kedzaliman diri kita. Kita tiap hari diajari mengucapkan dan menyatakan untuk senantiasa menerapkan kepada diri kita sendiri bahwa kita senantiasa Dzalim dan kufur.
Dalam bacaan sholawat saljul qulub, kita diajak untuk tasyaffu ke pangkuan baginda Rosul SAW dengan menyatakan kedzaliman kita yang berlarut larut. Ini menggambarkan betapa beliau Mbah Yahi Mu`allif Sholawat Wahidiyah betul betul menerapkan ayat suci Al Qur`an.

Allah SWT berfirman:

وَاٰتٰٮكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْـتُمُوْهُ  ۗ  وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا   ۗ  اِنَّ الْاِنْسَانَ لَـظَلُوْمٌ كَفَّارٌ
wa aataakum ming kulli maa sa`altumuuh, wa in ta'udduu ni'matallohi laa tuhshuuhaa, innal-insaana lazholuumun kaffaarun"

"Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat/ pasti mengingkari ."
(QS. Ibrahim 14: Ayat 34)

Maksud dari kalimat ( لَـظَلُوْمٌ ) itu tidak boleh tidak yang memang sangat dzalim.
Semoga kita semua termasuk orang yang dibuka kesadaran dan menyadari memang kita manusia ini senantiasa Dzalim dan kafir.

Dan mari kita simak dan terapkan bersama dalam praktek mengagungkan Allah dan Rosulnya, kita tentunya menyatakan diri senantiasa dzalim, hina, dina, di hadapan Allah dan Rosulnya sebagaimana dalam bacaan sholawat Wahidiyah yang mana beliau memberikan tuntunan penerapan "BILQURBIL MULAIM" Pendekatan dengan cara yang sesuai. Sesuai dengan kedudukan Allah dan Rosulnya yang Luhur dan kedudukan manusia sebaliknya. Jika hal ini kita terapkan betul betul dan bersungguh sungguh, niscaya akan menjadi sebab terbukanya hijab penghalang kita kepada Allah dan Rosulnya. Pernyataan diri yang Dzollan wa inkisar itu akan menjadi sebab kasih dan sayang Allah dan Rosulnya. Menjadi sebab kecintaan yang dipenuhi rahmat sempurna. Sebanding dengan kesempurnaan mulaim seorang hamba.

Beliau Muallif  memberi nama sebagai sholawat saljul qulub ( penyejuk jiwa ). Sholawat ini dipergunakan dalam mengadakan tasyaffu ( permohonan syafa`at )
Alfaatihah ...

 يَا شَافِعَ الْخَلْقِ الصَّلاةُ وَالسَّلامُ عَلَيْكَ نُوْرَ الْخَلْقِ هَادِيَ اْلانَامِ وَأَصْلَهُ وَرُوْحَهُ أَدْرِكْنِي فَقَدْ ظَلَمْتُ أَبَدًا وَرَبِّنِي وَلَيْسَ لِي يَا سَيِّدِي سِوَاكَ فَإِنْ تَرُدَّ كُنْتُ شَخْصًا هَالِكاً .

يَا سَيِّدِي يَا رَسُوْلَ الله
YAA SYAAFI’AL-KHOLQISH-SHOLAATU WASSALAAM , ‘ALAIKA  NUUROL KHOLQI  HAADIYAL ANAAM
WA-ASHLAHUU  WA RUUHAHUU  ADRIKNII , FAQOD  DHOLAMTU  ABADAW-WAROBBINII
WALAISA  LII  YAA SAYYIDII  SIWAAKAA, FA-IN TARUDDA  KUNTU  SYAKHSHON  HAALIKAA

YAA  SAYYIDII   YAA  ROSUULALLOOH  !

“Duhai Baginda Nabi Pemberi  syafa’at makhluq; ke pangkuanmu shalawat  dan salam ALLOH  ku sanjungkan,  Duhai Nur-cahaya mahluq, Pembimbing manusia.

Duhai Unsur dan Jiwa makhluq; Bimbing, bimbing, dan didiklah diriku. Sungguh, aku manusia yang dholim selalu;

Tiada arti diriku tanpa Engkau duhai Sayyidii, Jika Engkau hindari aku (akibat keterlaluan berlarut-larutku), pastilah, pastilah, pasti ‘ku ‘kan hancur binasa .

Aduhai pemimpin kami. Aduhai utusan Allah.

Dengan penjiwaan sholawat tsaljul qulub sebagaimana tersebut di atas, kita berhadapan langsung dengan unsur jiwa mahluk Shollallohu Alaihi Wasallam. Tentunya dengan adab lahir dan batin. Penerapan Takdziman, Ikroman wa Mahabbatan setulus tulusnya.

Ketika kita dibuka hidayah, diperlihatkan keadaan diri kita yang memang benar benar dzalim, kita tidak akan berani mengaku nemiliki kebaikan. Hampir semua pengamal sholawat Wahidiyah, meneteskan air mata hingga sebagian mengalami pingsan sebab tidak mampu menanggung kesalahan atas dosa dosanya sendiri sebesar gunung.

Kita patut bersyukur diberi amalan sholawat Wahidiyah yang berfaedah menjenihkan hati dan ma`rifat Billah wa Rosuluhi SAW, sekaligus diajari bagaimana menerapkan diri kita sebagaimana yang tertuang dalam kitabulloh. Semoga lebih dan lebih banyak lagi manusia yang diberi kesempatan untuk mengamalkan Sholawat Wahidiyah dan menerapkan ajarannya.


Menurut hukum syariat, memang dosa itu ada klasifikasinya. Ada dosa besar dan ada dosa kecil.sebab hukum syariat menghitung dosa sebatas yang tampak mata telanjang. Akan tetapi ketika sudah menyangkut dosa batin, hukum syariat tidak bisa mengukur lagi. Walaupun secara akal fikiran mengakui akan adanya dosa batin. Maaf. Dosa Akal fikiran itu termasuk ukuran lahiriyah. Masih bisa diukur secara syariat. Namun dosa batin itu sangat erat hubungannya dengan hukum Allah sendiri. Selama kita belum dibuka kesadaran ( ma`rifah ) kepada Allah, dosa batin itu masih remang remang.

Baru pada tingkat dosa lahir saja kita sudah tidak akan mampu menghitung. Jika kita teliti betul, satu perbuatan dosa itu banyak perangkat tubuh yang ikut berdosa. Sebagaimana contoh umum. Dalam sebuah kasus, satu orang pelaku kejahatan, maka orang yang tahu, orang yang melihat, orang yang melindungi, orang yang mendengar semua ikut terkena hukuman. Semua yang menyaksikan ikut terimbas kategori menyumbang kejahatan.
Ini jika kita persempit. Menurut hukum di hadapan Allah. Satu organ tubuh kita berbuat dosa, organ tubuh lain ikut menyumbang dosa. Berapa ruas tulang tubuh pasti terlibat. Beberpa bulu tubuh ikut terlibat. Bahkan ribuan sel sel tubuh menjadi pendukung perbuatan dosa. Kita tidak akan mampu menghitung jumlah dosa dosa kita sebagaimana kita juga tidak akan mampu menghitung jumlah nikmat yang diberikan oleh Allah kepada kita. Sehingga pendek kata semua nikmat pemberian  Allah kepada seluruh organ tubuh kita tidak mampu kita syukuri alias tidak mampu kita gunakan sesuai kehendak yang memberi nikmat yang berarti itu sebuah penyelewengan yang merupakan dosa kepada yang memberi. Belum lagi dosa dosa yang berhubungan dengan mahluk lain. Sungguh betapa nistanya kita. Kita ini sebenarnya penista yang sebenarnya. Tak terhitung penistaan penistaan yang kita lakukan. Terutama penistaan kepada sang pencipta alam semesta ini.

Semoga kita termasuk orang orang yang diberi bisa menyadari akan penistaan penistaan yang kita lakukan selama ini. Semoga secepat kilat dibuka kesadaran sebanyak banyaknya hingga kita secepat kilat diubah menjadi manusia yang diampuni, diberi nikmat, diberi sadar (ma`rifah), diberi cinta hingga diberi ridho dan diridhoi Allah SWT.

Yang ahirnya, segala murka Allah berubah menjadi cinta kasih sayang Allah Subhanahu Wata`ala. Aamiin.

Wabillahi taufiq wal hidayah.
Wassalamu`alaikum wr wb.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WAHIDIYAH DAN AHADIYAH

TIPU DAYA NAFSU

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA VERSI TAUHID (Lanjutan 2 )