HAL MELIHAT ALLOH

AHLI FIQIH MENUDUH SYIRIK AHLI TASAWWUF. ALLOH KOK DILIHAT!

Bismillahir rohmaanir rohiim.
Assalamu'alaikum wr wb.

 Iman itu memiliki banyak tingkatan. Mulai dari iman paling rendah hingga paling tinggi. Perjuangan Wahidiyah, memperjuangkan iman yang KAMIL ( Sempurna), iman ma'rifat kepada Alloh. 

Ratusan tahun para Auliya, para Sulthonul Auliya memperjuangkan iman ma'rifat. Mereka menggali ilmu iman ( ilmiyah) , iman rasa ( dzaukiyah). Menggali asror asror Robbaniyah hingga kata ma'rifat ini sangat sakral. Tidak sedikit orang umum merasa minder dan merasa tidak mungkin untuk mencapainya. Mereka orang awam beranggapan bahwa ma'rifat itu miliknya orang orang alim saja. Banyak timbul berbagai penafsiran penafsiran tentang ma'rifat.

Ada yang mengatakan bahwa ma'rifat itu mengetahui sesuatu yang belum terjadi. Ada yang mengatakan bahwa ma'rifat itu memiliki kekuatan batin dan mampu melihat sesuatu yang tersembunyi. Mampu menebak sesuatu, memiliki kekuatan yang luar biasa dan lain sebagainya. Sangat banyak sekali penafsiran penafsiran tentang ma'rifat. Hal ini berlangsung dari generasi ke generasi hingga mencapai titik klimak yang menyebabkan tumbuh pemahaman pemahaman baru yang sangat memengaruhi hampir sebagian besar ummat manusia.
Pemahaman baru yang tidak disadari oleh manusia dalam menyadari kedudukan Allah.

 Metode washilah akhirnya ditinggalkan oleh sebagian besar ulama serta menghakimi berberapa penafsiran tentang ma'rifat sebagai aliran aliran sesat dengan simbul klenik. Hal hal yang bersifat klenik menjadi sesuatu yang harus dihindari dengan menyematkan istilah Bid'ah. Pelahan tapi pasti Iman tinggal hanya sebatas ilmiah. Di mana mana didirikan majlis ta'lim yang mengkaji ilmunya iman dan sementara iman itu sendiri terabaikan. Manusia lupa bahwa iman itu tidak bisa dikaji. Karena ma'rifat itu bukan ilmu. Karena Nur itu bersifat knenik. Tidak ada seorangpun yang mampu menjelaskan kecuali Nur itu sendiri yang bertajalli dalam hati seorang hamba yang dikasihi. Maka sangat perlu disadari betul antara ma'rifat dengan ilmu ma'rifat.

 Orang yang memiliki ilmu ma'rifat belum tentu ma'rifat kepada Allah. Seperti kami saat ini. Secara bahasan, kelihatan membahas ma'rifat. Akan tetapi belum sama sekali menyentuh ma'rifat itu sendiri. Ini hanya sebatas ilmiah jua. Secara Aqliyah berupaya menyentuh apa itu ma'rifat. Akan tetapi apapun ini tetap aqliyah bersifat ilmiyah. Sama halnya dengan ilmu ilmu lain. Banyak sarjana sarjana filsafat. Sarjana tarbiyah bahkan sarjana tasawwuf. Semua hanya mempelajari ilmunya. Hanya ilmunya haqiqat. Bukan haqiqat itu sendiri. Seorang ahli ilmu haqiqat belum tentu menyadari kedudukan Allah. Seorang ahli ilmu ma'rifat, belum tentu menyadari sifat sifat Allah.

 Selama Alloh sendiri tidak membuka kesadaran kepada kita, maka tetap tidak ada kesadaran akan kedudukan Allah dan Rosulnya dalam hati kita. Apalagi jika saat ini pula hati kita tidak sedang menghadap Allah. Artinya tentu kita sedang membelakangi Allah dan Rosulnya. Jika tidak segera kita sadari, ini bisa menjadi hijab / penghalang kepada Allah. Semakin banyak ilmiah kita uraikan justru semakin tertutup jalan kita kepada Allah dan Rosulnya. Sama halnya dengan semua ilmu. Apapun itu tetap ilmu. Ilmu itu hanya alat. Alqur'an itu alat. Hadits juga alat. Cabang cabang ilmu lain yang sangat banyak mulai dari ilmu fiqih, tajwid, nahwu dan semua ilmu apapun pada dasarnya termasuk adalah alat yang digunakan untuk mencapai maksud. Walaupun alat dan semua alat itu digunakan, tetap tidak akan bisa mencapai tujuan. Sebab bidang Wahidiyah, bukan urusan mahluk. Alat itu mahluk. Semua selain Alloh adalah mahluknya Alloh.

Bidang Wahidiyah, semuanya atas qudroh irodah Alloh. Semua atas kehendak dan belas asih Allah semata. Bukan berarti kita menyepelekan alat. Kita menggunakan alat sebab disuruh. Sebab diperintah. Ini bidang taat. Ini kita kaji juga sebab disuruh. Berhati hati juga disuruh. Jangan sampai kita terpedaya oleh alat. Qudrah irodah Alloh terlupakan. Di titik inilah kajian ma'rifat jadi tertutup. Kita tidak mendapatkan kesadaran tapi hanya mendapat ilmu tentang ma'rifat saja. 

Sekali lagi mohon maaf khushushon kepada para ulama. Lebih lebih kepada Allah wa Rosulihi SAW Wa Ghoutsi Hadzaz Zaman RA. Kita mohon jangan sampai terpatok oleh alat. Banyak terjadi disekitar kita. Umumnya kalangan 'Alim. Kitab dijadikan patokan untuk menghakimi orang lain. Apalagi saat ada kepentingan.

Mohon maaf. Jika hal hal tersebut dijadikan patokan, tentu menimbulkan berbagai pendapat. Yang pada ahirnya akan merusak iman itu sendiri. Kenapa begitu? Sebab yang menguasai mahluk hanya Allah. Yang menghakimi mahluk juga Alloh. Di sekitar kita banyak kita ketahui ilmu ilmu kebatinan yang dikuasai oleh manusia. Dari berbagai agama. Juga dikuasai orang orang yang bertentangan dengan ketuhanan. Bahkan juga dikuasai oleh orang yang tidak beragama sekalipun. Dengan adanya berbagai macam penafsiran tentang ma'rifat, para mufassirin berbeda pendapat . Belum lagi bertentangan panjang antara Syi'ah dan Sunny. Ulama fiqih sangat menentang ulama tasawwuf dengan sebutan aliran aliran ilmu yang dianggap bertentangan dengan alqur'an dan Hadits. Dari kalangan muhadditsin ( ahli hadits) ikut terseret dalam kancah yang sama hingga terjadi qualifikasi hadits hingga ada hadits yang ditolak dan lain sebagainya.

 Semua hal tersebut ( sisi ketuhanan) tidak sepenuhnya salah dan memang itulah yang terjadi sepanjang ratusan bahkan ribuan tahun. Perjuangan Wahidiyah hadir di antara kita, bukan membuat suatu aliran atau pemahaman baru. Perjuangan Wahidiyah hadir dalam rangka mengumpulkan kembali puing puing yang sudah lapuk diikat dalam satu ikatan disiplin tauhid yang tinggi dalam tataran iman musyahadah. Perjuangan Wahidiyah sudah dirangkum dan ditata apik dari berbagai sudut dan bisa diterima oleh semua golongan dan aliran. Bahkan banyak kalangan awam diberi peningkatan dan kemudahan dalam mengamalkan dan memahami tauhid yang sebelumnya dianggap tidak mungkin. Dari sisi ilmiyah bisa dijabarkan, sisi manapun bisa diterima. Bangsa apapun dan agama apapun bisa menerima. Jika ditolak, sebab adanya sebuah kepentingan.

 Iman sempurna itu tiada batas. Demikian juga tentang ma'firat itu sendiri juga tiada batas ujungnya hingga tidak ada suatu batasan ilmu yang membatasi. Tiada jangkauan akal yang mampu memikirkan. Tiada tafsiran yang mampu menguraikan. Semua tergantung dari mana dan di mana kita memandang. Yang jelas di atas langit masih ada langit.

 Ketika ada seseorang yang menghakimi suatu kaum atau kelompok, tentu akan terjadi perdebatan berkepanjangan tiada titik temu. Semoga kita diberi kemampuan sebijak mungkin sebatas pemberian itu sendiri tanpa harus menilai benar salahya orang lain.

 Dalam sebuah perhelatan, beliau Pengasuh Perjuangan Wahidiyah ditanya oleh seorang aparat TNI tentang ISIS. Beliau menjawab dengan sederhana. Bahwa ini perjuangan Wahidiyah. Kita bukan ISIS. Kita memohon pertolongan Alloh bagi semua manusia. Semua mahluk seluruh alam tanpa menyalahkan mahluk. Jika
masih menyalahkan kelompok lain atau mahluk lain, maka itu bukan Wahidiyah. 

Sungguh kami mohon maaf seribu maaf. Kami hanya mengutarakan hal hal yang ada di masyarakat. Sepintas hukum fiqih bertentangan dengan hukum yang dipraktikkan oleh ulama tasawwuf. Sebab hukum fiqih memang dibatasi oleh aturan syara' itu sendiri. Hukum fiqih membawa batasan yang tidak bisa didobrak. Di sini mengindikasikan bahwa hukum fiqih sudah baku menurut madzhab masing masing. Ahli tasawwuf pada dasarnya semua ahli fiqih. Tidak ada ahli tasawwuf yang bukan fuqoha. Ketika ada seorang sufi meninggalkan syariat (fiqih ), maka dia belum masuk kategori ahli tasawwuf. Di sisi lain mungkin ada perbedaan penafsiran.

 Ahli tasawwuf menjalankan dua sisi yaitu hukum islam dan hukum tuhan Alloh SWT. Yang di dalamnya terdapat hukum Adi, hukum Naqli dan Aqli. Sehingga ketika ahli fiqih menolak dan mengatakan sesat kepada ahli tasawwuf, semua ahli tasawwuf hanya diam seribu basa kecuali dengan iringan do'a " Allohummahdii li qoumi fainnahum laa ya'lamuun" Yaa Alloh, berilah petunjuk karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui. Inipun tidak dilontarkan kepada mereka. Sebab do'a itu hanya dihaturkan kepada Alloh. 

Sementara junjungan kita Rosululloh menegaskan bahwa MAN TASAWWAFA WA LAM YATAFAQO FAQOD TAZANDAQ, WA MAN TAFAQOHA WA LAM YATASAWAF FAQOD TAFASAQ, WA MAN TASAWAFFA WA TARAQOHA FAQOD TAHAQOQ”. Yang artinya : “BARANGSIAPA MEMPELAJARI / MENGAMALKAN TASAWUF TANPA FIQIH MAKA DIA TELAH ZINDIK, DAN BARANGSIAPA MEMPELAJARI FIQIH TANPA TASAWUF DIA FASIQ (TERSESAT ), DAN SIAPA YANG MEMPELARI TASAWUF DENGAN DISERTAI FIQIH DIA MERAIH KEBENARAN YANG HAQ. Ketika terjadi ZINDIQ ( mendekati kekafiran) dalam suatu ibadah sebab tidak adanya pegangan baik secara Naqliyah maupun Aqliyah. Hingga kita memutuskan perkara tanpa dasar haq. Namun tidaklah mudah kita menilai seseorang kecuali Sang Ahli ( Mursyidul Kamil Mukammil). Sebab ini bidang dalam. Bidang luar ( syariat) tidak bisa digunakan untuk menilai bidang dalam. 

Sebagai contoh yang seiring dengan kajian ini yaitu HAL MELIHAT ALLOH. Dalam kajian tasawwuf, melihat itu bisa dengan berbagai cara: @. Melihat kelas rendahan, yaitu dengan akal fikiran. Titik focus mata akal adalah ingat ( dzikir). Jika kita tidak ingat kepada Alloh, tentu kita sedang lupa. Dalam Alquran termasuk golongan jinabat Ghuflah " Wakanuu anha ghoofiliin" Dan itulah golongan orang orang yang lupa. Golongan awam tauhid menempati tingkatan ini. Lebih dari ini tidak bisa. Akal fikirannya tidak bisa keluar dari batasan akalnya. Dengan berusaha memperbanyak Dzikir akan membantu dia untuk menghadap Allah dengan cara mengingat ingat. Dalam tingkatan ini sudah cukup untuk "Litathmainnal qulub." untuk menentramkan hati. Dengan mmperbanyak dzikir hatinya tentram. Tingkatan ini masing sangat berbahaya bagi keimanan. Hatinya masih dipengaruhi oleh Dzikir. Jika mengalami kesuksesan dalam suatu hal, dia berkata bahwa sebab dzikirnya itu menjadikan dia sukses. Dia berkata sebab wiridnya dia memperoleh apa yang diupayakan. Tingkatan ini setara dengan ahli ilmu ( ilmiyah) . Segala sesuatu harus masuk akal secara ilmiyah.

 @. Melihat dengan rasa ( Dzauqiyah) hati. Hati yang merasa itu juga bisa disebut dengan hati yang merasakan menghadap. " di mana junjungan kita Rosululloh SAW mengingatkan hati yang sudah merasakan menghadap . Dalam sabdanya " Wa'bud kaannaka taro, Faillam taroo fainnahu yarooka" beribadahlah seakan akan kamu melihat Alloh. Jika kami tidak bisa melihat, sesungguhnya Alloh melihat kamu. Dalam hal ini seiring dengan sabda bahwa yang dilihat oleh Allah adalah hatinya. Wajjahtu Wajhiya lilladzii fathoros samaawati wamaa fil ardh. Dalam hal ini, hati yang sedang tawajjuh menghadap Alloh yang menguasai langit dan bumi. Termasuk menguasai dirinya. Jika Imannya menurun, kita masih merasa dilihat oleh Alloh. Tingkatan ini sudah meningkat. Akalnya sudah dikuasai oleh hati. Ketika hati menghadap, akalnya menyetujui. Tidak ada upaya/ tanpa harus konsentrasi. Ibarat orang makan nasi, dia sedang mengunyah nasi dan tidak perlu konsentrasi memikirkan rasanya nasi sebab dia sedang merasakan nikmatnya makan nasi. Demikian juga kepada Allah. Dia merasakan kehadiran Allah dalam hatinya. Spontan merasakan tanpa upaya ( haalan qoblahu au ba'dahu ) Ketika hatinya sedang tidak menghadap, dia sedang terhalang oleh Nur.

 @ melihat Alloh dengan Musyahadah. Ini melihat paling tinggi. Sangat sulit digambarkan. Sementara orang yang sedang musyahadah itu sendiri tidak bisa menggambarkan betapa tingginya musyahadah. Hingga yang bersangkutan sendiri tidak merasa musyahadah. Bahasa sudah tidak mampu lagi mengungkapkan. Sebagaimana sabda " Wa'bud kaannaka taro. Faillam taro, fainnahu yarooka. Mengabdilah kamu seakan akan kamu melihat Allah. Apabila kamu tidak bisa melihat Allah, karena sesungguhnya Alloh melihat kamu. Dari sabda tersebut di atas, menunjukkan bahwa ada seorang hamba yang diberi lebih. Melebihi tingka rasa hati ( melebihi tingkat dzauqiyah). Ketika seorang hamba yang dikasihi, dia diberi hingga Musyahadah kepada Alloh. Dia sendiri tidak merasa bisa melihat. Penglihatan si hamba tersebut murni Billah. Menyaksikan Allah / Musyahadah bi 'ainul bashiroh Allah sendiri. Seorang hamba yang sedang Musyahadah bi 'ainul bashiroh tidak merasa bisa melihat kecuali Billah semata. Tidak ada ungkapan. Jika terpaksa harus diuraikan, bahasa yang mendekati ini bisa digambarkan sebagai orang yang sedang kamitenggengen ( terpesona tiada tara) kalau hanya sekedar terpesona, akal masih ikut campur tangan. Masih ada ungkapan dalam hatinya. Kalau kamitenggengen, sudah tidak ada ungkapan. Tertegun yang sangat dalam melihat sifat sifat Allah hinnga betul betul lupa akan dirinya. Begitu indah sifat jamaliyahnya Alloh. Begitu perkasanya sifat qohharnya Alloh dan seterusnya. Namun kami sadari betul bahwa uraian ini belum sepenuhnya tepat. Sebab betapa tingginya kedudukan seorang hamba yang diberi Musyahadah. Hinnga mahluk lain dipaksa tunduk tersungkur dihadapan sang hamba yang dikasihi tersebut. Bi qudratillah tentunya. Sangat tinggi hingga tiada kata kata yang bisa mengutarakan. Jika di sini diutarakan, hanya sebatas pendekatan untuk memohon tambahan bagi pelaku Rohani senantiasa waspada. Sangat waspada akan kedudukan sang kekasih yang tidak ada satupun campur tangan mahluk. Apalagi akal. Akal sudah tidak mampu menjangkau.

 Wabillahi taufiq wal hidayah Wassalamu'alaikum wr wb

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WAHIDIYAH DAN AHADIYAH

TIPU DAYA NAFSU

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA VERSI TAUHID (Lanjutan 2 )